Ekonomi Politik Perburuhan | Belajar, aksi dan solidaritas!

Minggu, 05 Mei 2013

Apakah Aksi May Day 2013 Berpengaruh di Tingkat Pabrik?

Waktu: 4 Mei,1886; lokasi: Haymarket,
 Chicago, Illinois, Amerika Serikat;
tujuan; 8 jam kerja sehari;
metode; pemogokan, protes, demonstrasi.
Sekarang menjadi Hari Buruh Internasional,
1 Mei; dan 8 jam kerja sehari dinikmati
 generasi buruh berikutnya hingga sekarang. 
Oleh: Danial Indrakusuma

Awalnya 1 Mei adalah hari ketika buruh menuntut pengurangan jam kerja. mereka menuntut dengan aksi massa dan rapat akbar yang serius, bukan aksi basa-basi, apalagi pesta atau semi-pesta. Mereka diprovokasi, difitnah, diadili pengadilan dagelan, divonis mati dan seumur hidup. Mereka terus- menerus menuntut (dengan aksi massa dam rapat akbar, militan). Akhirnya mereka menang, dan hasilnya bisa dinikmati hingga generasi sekarang.

Apakah "aksi" May Day sekarang bisa berpengaruh di tingkat pabrik--mengatasi premanisme; PHK massal (yang bukan karena efesiensi/rasionalisasi atau pailit tapi karena hendak DIGANTIKAN oleh buruh baru yang lebih segar dan tak berserikat, union busting); pemutusan hubungan kerja (tanpa dilanjutkan) buruh kontrak, atau pemecatan buruh kontrak (baik yang belum waktunya mapun atau yang sudah waktunya) dengan tujuan union busting; penurunan daya beli upah buruh hingga 27% sampai 56% (bila daya beli buruh hendak disamakan dengan 16 tahun yang lalu saja, maka upahnya harus Rp.3.440.000,-); tunjangan- tunjangan yang belum memadai; kondisi kerja yang belum layak; union busting (dalam berbagai bentuk); status kerja yang tak pasti; dan lain-lain. Juga berpengaruh di tingkat politik? Sekali lagi, akan kah "aksi" May Day sekarang ini militan hingga berpengaruh terhadap perubahan di tingkat pabrik dan di tingkat politik, seperti aksi May Day generasi pertama?

Pada May Day buruh bisa memanfaatkannya menjadi aksi serius untuk menuntut masalah-masalah buruh yang belum selesai dan juga tuntutan politik, apalagi akan banyak massa buruh yang terlibat. Tapi, sekali lagi, aksinya harus yang serius--bila massa buruh menghendaki dan situasinya memungkinkan, bisa dilanjut pada hari-hari berikutnya sampai tuntutanya terpenuhi karena, seperti sekarang ini, banyak aksi besar tak berpengaruh di tingkat pabrik (misalnya premanisme dan pemecatan serta pemutusan hubungan kerja buruh kontrak yang bukan karena efesiensi/rasionalisasi tapi karena hendak digantikan oleh buruh yang masih segar dan tak berserikat, semacam union busting terselubung).

Tugas kita bersama kaum buruh adalah saling-belajar meningkatkan kesadaran buruh agar dapat memanfaatkan hari (libur) May Day menjadi aksi sadar yang militan. Aku tak percaya hari libur May Day tidak merugikan pengusaha dan penguasa pendukungmya, pemberian hari libur May Day justru karena desakan kaum buruh yang sudah tak bisa mereka tahan lagi, kemudian mereka menyogoknya agar tak menjadi aksi yang militan dan sebagai pencitraan--anda tahu sendiri, sejak '65 mereka meniadakan hari May Day. Tinggal kita (bila sudah sadar) memanfaatkannya.

Namun perayaan May Day tetap berguna, paling tidak untuk meningkatkan semangat berjuang karena berkumpul banyak dengan kawan-kawan. Tapi bila tak didorong dan dimanfaatkan hingga berpengaruh di tingkat pabrik dan di tingkat politik, maka hanya akan berputar-putar di situ saja.

Artikel Terkait

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar